PRAKATA PENULIS BUAT APA BERAGAMA? –ABDILLAH TOHA

 

Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang  yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Al-Baqarah (2): 11-12

 

Bismillâh al-Rahmân al-Rahîm

Buku Buat Apa Beragama? ini adalah kumpulan tulisan dan renungan saya selama beberapa waktu yang tersebar di berbagai media cetak dan elektronik. Saya beri judul Buat Apa Beragama? karena tema dari berbagai topik yang dibahas di sini memang upaya saya untuk memahami agama dengan benar.  Memahami apa sebenarnya manfaat agama bagi Muslim seperti saya.

Ketika Allah menurunkan wahyu-Nya kepada berbagai nabi, khususnya nabi terakhir, Muhammad Saw., apakah agama ini hanya untuk menyiapkan kita pada kehidupan setelah mati atau berguna bagi kehidupan kini dan di sini? Apakah Islam untuk kehidupan di dunia atau hanya untuk akhirat? Apakah di akhirat masih ada agama?

Sudah terlalu sering kita dengar para ustaz dan dai mengutip ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa kehidupan duniawi ini hanya sementara. Yang abadi nanti di akhirat. Tuhan menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya dan menyiapkan bekal untuk akhirat. Dunia penuh dengan permainan dan tipuan. Dan seterusnya.

Semua kutipan wahyu itu tidak salah. Yang salah bisa jadi adalah pemahaman apa yang dimaksud dengan ibadah. Apakah itu sekadar shalat, puasa, haji, zikir dan sejenisnya, atau lebih luas daripada itu? Apakah Islam itu pada saat shalat atau perilaku kita setelah shalat? Apakah memuji dan menyembah Tuhan itu karena Tuhan butuh dipuji dan disembah atau semua itu untuk kepentingan kita?

Apa sebenarnya tujuan Tuhan menciptakan Adam di surga kemudian menurunkannya ke bumi sebagai “khalifah di bumi” kalau bukan agar Adam melihat surga dan mewujudkan kehidupan surgawi di dunia agar bebas dari kelaparan, ketakutan, dan kesengsaraan? Mengapa kita jarang mendengar khutbah dan ceramah-ceramah ulama dan para ustaz yang berisi inspirasi untuk membangun umat yang maju, berilmu, dan kuat?

Apakah agama itu sebuah perkumpulan atau paguyuban yang harus dibentengi dan dijaga dari serangan musuh atau agama adalah penghayatan jiwa dan ruh yang akan menguatkan keduanya dari segala bentuk keguncangan yang melanda diri? Apakah agama itu tujuan akhir kita atau agama adalah jalan yang akan membawa kita kepada tujuan sebenarnya menjadi manusia yang paripurna?

Apakah sebagai orang beragama kita harus menutup pintu rapat-rapat dan mencurigai semua pengaruh luar sebagai berbahaya dan dapat mencemari iman kita, atau kita buka pintu kita lebar-lebar dan mengambil semua manfaat dan kearifan yang bisa menambah wawasan beragama kita? Apakah agama

atau Tuhan perlu dibela?

Sudah sadarkah sebagian besar Muslim bahwa ada lima tujuan syariah yang harus didahulukan dari kewajibankewajiban lainnya dalam beragama? Bahwa agama Islam menempatkan maslahat kemanusiaan di atas kepentingan peribadatan?

Sulitkah menjadi Muslim dengan segala kewajiban dan larangan yang diatur dalam syariah? Apakah agama membebani kita dengan berbagai kewajiban dan larangan yang terlalu berat untuk dipikul? Apa hubungan agama dengan politik yang benar? Mengapa di banyak negeri non-Muslim kita dapati warganya lebih islami daripada di negeri-negeri Muslim?

Ketika Muslim mengucap assalamu ‘alaikum atau meneriakkan takbir atau memulai suatu perbuatan dengan membaca bismillah dan sebagainya, tahukah mereka makna sebenarnya dari berbagai kebiasaan sehari-hari seorang Muslim itu? Ataukah itu hanya sekadar kebiasaan di mulut tanpa dihayati arti dan makna sebenarnya?

Ringkasnya, apakah keberagamaan kita sebagai Muslim sejauh ini telah menciptakan nilai tambah bagi kemanusiaan dan umat manusia atau justru sebaliknya telah lebih banyak menimbulkan kerusakan, tetapi kita merasa telah berbuat yang benar sesuai dengan ajaran agama, seperti dijelaskan dalam ayat pada pembukaan prakata ini.

Semua itu dan banyak lagi dibahas dalam berbagai tulisan dan renungan di buku ini. Karena setiap topik dibahas dalam tulisan yang pendek dan dalam bahasa populer, tentu saja buku ini tidak berpretensi menuntaskan semua persoalan umat. Apabila setelah membaca berbagai bab dalam buku ini pembaca menjadi lebih terbuka wawasan pikirannya, kemudian berupaya melakukan pendalaman lebih lanjut menyangkut pemahamannya tentang agama Islam, maka tujuan saya telah tercapai.

Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pandangan dan pemahaman saya tentang agama Islam yang saya anut adalah yang paling benar. Kebenaran mutlak hanya milik Sang Pencipta langit dan bumi. Saya bukanlah ulama atau ustaz. Pernah mengecap pendidikan madrasah selama sembilan tahun, selebihnya pada dasarnya saya adalah produk dari pendidikan sekolah menengah dan perguruan tinggi umum. Di luar itu, saya adalah murid dari berbagai guru dan terus berusaha mencari dan menguak makna dari keberagamaan.

Terlalu banyak guru saya untuk disebut di sini satu per satu. Baik guru yang kenal pribadi maupun guru yang tak pernah jumpa, kecuali dalam tulisan atau rekaman audio-videonya. Tentu ada satu atau dua guru yang jadi favorit saya dan memengaruhi jalan pikiran saya. Mereka adalah yang menyajikan Islam sebagai agama yang ramah, tidak rumit, ringan, dan menyenangkan. Tanpa menggampangkan apa yang diwajibkan dan dilarang oleh agama.

Berbagai renungan dalam buku ini juga didorong antara lain oleh observasi keterpurukan sebagian besar Muslim di dunia selama beberapa ratus tahun terakhir. Banyak sudah analisis sejarah dan ilmiah ditulis oleh ahlinya tentang berbagai penyebabnya. Salah satu penyebabnya yang mendorong saya untuk merenung adalah pemahaman tentang agama yang menurut saya telah guncang dan meleset karena berbagai trauma kolonialisme dan kekalahan Muslim dalam sejarah modern.

Sebagai akibatnya, Muslim mencari perlindungan di balik tirai-tirai konservatisme dan kekolotan. Muslim lebih banyak melihat ke belakang pada masa “kejayaan” Islam daripada ke depan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kemakmuran. Agama dipakai sebagai alat defensif untuk membela diri. Bukan sebagai pendorong untuk kemajuan. Simbolisme lebih ditonjolkan daripada kerja dan hasil nyata.

Sebaliknya, di bagian Dunia Islam lain, agama telah menjadi ajang permusuhan dan perpecahan antar-sesama Muslim. Perang saudara antar-sesama penganut agama tak terhindarkan. Agama ditunggangi oleh nafsu kekuasaan dan yang dicari bukan pemahaman untuk mencari kebenaran, tetapi pembenaran terhadap perilaku yang sesungguhnya jauh dari Islam.

Ringkasnya, agama itu bisa bermanfaat, tetapi bisa pula merusak dan mengacaukan kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Agama tidak netral. Tinggal terserah kita bagaimana mau memaknai agama. Sejarah telah membuktikan bahwa agama bisa menginspirasi tumbuhnya peradaban yang tinggi, tetapi juga bisa menghancurkannya lewat perang yang menyengsarakan dan mengorbankan jutaan jiwa manusia.

Sebagai sumbangan pemikiran bagi kita semua, harapan saya, Allah meridhai upaya sederhana ini. Terima kasih tak terhingga kepada semua yang telah mengilhami berbagai renungan saya ini dan mendorong saya untuk menerbitkannya dalam bentuk buku. Apabila ada kesalahan dan kecerobohan dalam buku ini, maka itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Saya dengan senang hati bersedia menerima kritik dan koreksi dari mana pun datangnya.

Hanya dengan taufik dan hidayah-Nya kita semua akan menemukan dan menelusuri jalan yang lurus, jalan yang di atasnya diberi kenikmatan dan dijauhkan dari murka-Nya. Amin.

Jakarta, Agustus 2020

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.

Open chat